RSS

Makalah Strategi Mengajar Tentang Teori Belajar Bermakna

11 Okt

Makalah strategi  mengajar ini dibuat berdasarkan sumber yang ada dan sebagai penyrlesaan dari tugas yang diberikan dalam mata kuliah ini ?………………………………….

MAKALAH

STRATEGI BELAJAR MENGAJAR

 

DAVID AUSUBEL : BELAJAR BERMAKNA

Oleh:

M. KHUWAZAKI (ACC 109 042)

                        

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA

JURUSAN PENDIDIKAN MIPA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS PALANGKA RAYA

2010

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat Rahmat dan Karunia-Nyalah kami dapat menyelesaikan tugas makalah Strategi Belajar Mengajar dengajudul ” David Ausubel : Belsjsr Bermakna” ini tepat pada waktunya. Kami menyadari bahwa makalah yang kami susun ini terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu, kami selalu mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari Dosen Strategi Belajar Mengajar maupun teman-teman sekalian.

Akhir kata, kami mengucapkan terma kasih atas dukungan dari semua pihak yang terlibat dalam penulisan makalah ini. Semoga dengan selesainya makalah ini dapat berguna bagi kita semua guna menambah pengetahuan dan wawasan kita.

Palangka Raya,    September  2011

Tim Penulis,

1

DAFTAR ISI

Hal

KATA PENGANTAR …………………………

1

DAFTAR ISI …………………………

2

BAB I   PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang …………………………

3

1.2 Rumusan Masalah …………………………

3

1.3 Tujuan Penulisan …………………………

3

1.4 Batasan Masalah …………………………

3

BAB II  PEMBAHASAN

2.1 Belajar Menurut Ausubel …………………………

4

2.2 Menerapkan Teori Ausubel Dalam Mengajar …………………………

7

2.3 Peta Konsep …………………………

9

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan …………………………

12

3.2 Saran …………………………

12

DAFTAR PUSTAKA …………………………

13

2

BAB I

PENDAHULUAN

1.1     Latar Belakang

David Ausubel adalah seorang ahli psikologi pendidikan. inilah  yang membedakan Ausubel dari teoriawan – teoriawan lainnya yang hanya berlatar belakang psikologi, tetapi teori – teori mereka diterjemahkan dari dunia psikologi ke dalam penerapan pendidikan. Ausubel memberi penekanan pada “belajar bermakna”, serata retensi dan variabel-variabel yang berhubungan dengan macam belajar ini. Dalam makalah ini akan dibahas prinsip-prinsip belajar menurut Ausubel, yaitu belajar bermakna, belajar hafalan, pristiwa subsumi, diferensi progresif, penyesuaian integratif, belajar superordinat, pengatur awal, serta bagi mana teori ini diterapkan dalam mengajar.

1.2     Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang akan kami kemukakan dalam makalah ini adalah:

1)      Belajar menurut Ausubel ?

2)      Menerapkan teori Ausubel dalam mengajar ?

3)      Peta konsep ?

1.3     Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari makalah ini adalah:

Ø  Untuk mengetahui bagimana teori belajar menurut Ausubel, Penerapan teori Ausubel dalam mengajar, dan peta konsepnya.

1.4     Batasan Masalah

Pada makalah ini kami akan menguraiakan satu teori belajar dari beberapa teori yang ada pada buku karangan Prof. Dr.Ratna Wilis Dahar,M.Sc yaitu, teori David Ausebel : Belajar Bermakna.

3

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1  Belajar Menurut Ausubel

 

Gamabr : Bentuk-bentu belajar (menurut Ausubel & Robinson, 1969)

1.    Belajar bermakna.

Menurut Ausubel bahan subjek yang dipelajari siswa mestilah “bermakna” (meaningfull). Pembelajaran bermakna merupakan suatu proses mengaitkan informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. Struktur kognitif ialah fakta-fakta, konsep-konsep, dan generalisasi-generalisasi yang telah dipelajari dan diingat siswa.  Pembelajaran bermakna adalah suatu proses pembelajaran di mana informasi baru dihubungkan dengan struktur pengertian yang sudah dimiliki seseorang yang sedang melalui pembelajaran. Pembelajaran bermakna terjadi apabila siswa boleh menghubungkan fenomena baru ke dalam struktur pengetahuan mereka.

4

Artinya, bahan subjek itu mesti sesuai dengan keterampilan siswa dan mesti relevan dengan struktur kognitif yang dimiliki siswa. Oleh karena itu, subjek mesti dikaitkan dengan konsep-konsep yang sudah dimiliki para siswa, sehingga konsep-konsep baru tersebut benar-benar terserap olehnya. Dengan demikian, faktor intelektual-emosional siswa terlibat dalam kegiatan pembelajaran.

2.    Belajar hafalan

Bila dalam struktur kognitif seseorang tidak terdapat konsep – konsep relevan atau subsumer-subsumer relevan, maka informasi baru dipelajari secara hafalan. Bila tidak ada usaha untuk mengasilmilasikan pengetahuan baru pada konsep – konsep relevan yang sudah ada dalam struktur kognitif, akan terjadi belajar hafalan. Pada kenyataannya, bayak guru dan bahan-bahan pelajaran jarang sekali menolong para siswa untuk menentukan dan menggunakan konsep-konsep relevan dalam struktur kognetif mereka untuk mengasimilasikan pengetahuan baru, dan akibatnya pada para siswa hanya terjadi belajar hafalan.

3.    Subsumsi dan Subsumsi Obliteratif

Selama belajar bermakna berlangsung, infirmasi terbaru terkait pada konsep-konsep dalam struktur kognitif. Untuk menekankan pada fenomena pengaitan ini, ausubel mengemukakan istilah subsumer. Subsumer memegang peranan dalam proses perolehan informasi baru. Dalam belajar bermakna subsumer mempunyai peranan interaktif , memperlancar gerakan informasi yang relevan melalui penghalang – penghalang perseptual dan menyediakan suatu kaitan antara informasi yang baru diterima dan pengetahuan yang sudah dimiliki sebelumnya. Lagi pula, dalam proses terjadinya kaitan ini, subsumer itu mengalami sedikit perubahan. Proses interaktif antara materi yang baru dipelajari dengan subsumer-subsumer inilah yang menjadi inti teori belajar asimilasi ausubel. Proses ini disebut proses subsumsi, dan secara simbolis dinyatakan sebagai berikut :

A + a1 → A’ a1’ + a2 → A” a1’ a2’ +  a3 →  A’” a1’ a2’ a3

Waktu = 0 Waktu = 1                  Waktu = 2 Waktu = 3

A                     = Subsumer

A’                    = Subsumer yang mengalami modifikasi

A” dan A”’     = Subsumer yang lebih banyak mengalami modifikasi

5

a1                            = Infomasi baru yang mirip dengan subsumer A, demikian pula    a2 dan a3, a1’,a2’,a3’ = pengetahuan baru yang telah tersubsumsi.

Jadi, walaupun kelihatannya ada sesuatu unsur subordinat yang hilang, subsumer telah diubah oleh pengalaman belajar bermakna sebelumnya.

Menurut Ausubel dan Novak, ada tiga kebaikan dari belajar bermakna yaitu :

1.      Informasi yang dipelajari secara bermakna lebih lama dapat di ingat.

2.      Informasi yang tersubsumsi berakibatkan peningkatan diferensiasi dari subsymer – subsumer, jadi memudahkan proses belajar berikutnya untuk materi pelajaran yang mirip.

3.      Informasi yang dilupakan sesudah subsumsi obliteratif, meninggalkan efek residual pada subsumer, sehingga mempermudah belajar hal – hal yang mirip, walaupun telah terjadi “lupa”.

4.    Variabel-variabel yang mempengaruhi belajar penerimaan bermakna.

Faktor – faktor utama yang mempengaruhi belajar penerimaan bermakna adalah struktur kognitif yang ada, stabilitas dan kejelasan pengetahuan dalam suatu bidang tertentu dan pada waktu tertentu. Sifat-sifat struktur kognetif menentukan validitas dan kejelasan arti-arti yang timbul waktu informasi baru masuk kedalam struktur kognetif itu ; demikian pula sifat prosese interaksi yang terjadi.jika struktur kognetif itu tidak stabil, meragukan, dan tidak teratur,maka struktur kognetif itu cendrung menghambat belajar dan retensi.

Prasyarat – prasyarat dari belajar bermakna adalah sebagai berikut :

1.      Materi yang dipelajari harus bermakna secara potensial.

2.      Siswa yang akan belajar harus bertujuan untuk melaksanakan belajar  bermakna, jadi mempunyai kesiapan dan niat untuk belajar bermakna (meaningful learning set).

Kebermaknaan materi pelajaran secara potensial tergantung pada dua faktor yaitu sebagai berikut :

1.      Materi itu harus memiliki kebermaknaan logis.

2.      Gagasan – gagasan yang relevan harus terdapat dalam struktur kognitif siswa .

6

2.2  Menerapkan teori Ausubel dalam mengajar

Kebermaknaan materi pelajaran secara potensial tergantung dari materi itu memiliki kebermaknaan logis dan gagasan-gagasan yang relevan harus terdapat

dalam struktur kognitif siswa. Bedasarkan Pandangannya tentang belajar bermakna, maka David Ausable mengajukan 4 prinsip pembelajaran , yaitu:

1.    Pengatur awal (advance organizer).

Pengatur awal atau bahan pengait dapat digunakan guru dalam membantu mengaitkan konsep lama denan konsep baru yang lebih tinggi maknanya. Pemggunaan pengatur awal tepat dapat meningkatkan pemahaman berbagai macam materi , terutama materi pelajaran yang telah mempunyai struktur yang teratur. Pada saat mengawali pembelajaran dengan prestasi suatu pokok bahasan sebaiknya “pengatur awal” itu digunakan, sehingga pembelajaran akan lebih bermakna.

2.      Diferensiasi progresif.

Dalam proses belajar bermakna perlu ada pengembangan dan kolaborasi konsep-konsep. Caranya unsur yang paling umum dan inklusif dipekenalkan dahulu kemudian baru yang lebih mendetail, berarti proses pembelajaran dari umum ke khusus.

3.      Belajar superordinat

Belajar superordinat adalah proses struktur kognitif yang mengalami petumbuhan kearah deferensiasi, terjadi sejak perolehan informasi dan diasosiasikan dengan konsep dalam struktur kognitif tersebut. Proses belajar tersebut akan terus berlangsung hingga pada suatu saat ditemukan hal-hal baru. Belajar superordinat akan terjadi bila konsepkonsep yang lebih luas dan inklusif.

4.      Penyesuaian Integratif

Pada suatu sasat siswa kemungkinan akan menghadapi kenyataan bahwa dua atau lebih nama konsep digunakan untuk menyatakan konsep yang sama atau bila nama yang sama diterapkan pada lebih satu konsep. Untuk mengatasi pertentangan kognitif itu, Ausable mengajukan konsep pembelajaran penyesuaian integratif Caranya materi pelajaran disusun sedemikian rupa, sehingga guru dapat menggunakan hiierarkhi-hierarkhi konseptual ke atas dan ke bawah selama informasi disajikan. Penangkapan (reception learning).

7

Belajar penangkapan pertama kali dikembangkan oleh David Ausable sebgai jawaban atas ketidakpuasan model belajar diskoveri yang dikembankan oleh Jerome Bruner etrsebut. Menrut Ausubel , siswa tidak selalu mengetahui apa yang pening atau relevan untuk dirinya sendiri sehigga mereka memerlukan motivasi eksternal untuk melakukan kerja kognitif dalam mempelajari apa yang telah diajarkan di sekolah. Ausable menggambarkan model pembelajaran ini dengan nama belajar penangkapan. Para pakar teori belajar penangakapan menyatakan bahwa tugas guru adalah:

a.         Menstrukturkan situasi belajar.

b.        Memilih materi pembelajaran yang sesuai dengan siswa.

c.         Menyajikan materi pembelajaran secara terorganisir yang dimulai dari gagasan.

Inti belajar penangkapan yaitu pengajaran ekspositori , yakni pembelajaran sistematik yang direncanakan oleh guru mengenai informasi yang bermakna (meaningful information). Pembelajaran ekspositori itu terdiri dari tiga tahap, yaitu:

1.        Penyajian advance organizer

Advance organizer merupakan pernyataan umumyang memeperkenalkan bagian-bagian utama yang etrcakup dalam urutan pengajaran. Advance organiberfungsi untuk menghubungakan gagasan yang disajikan di dalam pelajaran dengan informasi yang telah berda didalam pikiran siswa, dan memberikan skema organisasional terhadap informasi yang sangat spesifik yang disajikan.

2.      Penyajian materi atau tugas belajar.

Dalam tahap ini, guru menyajikan metri pembelajaran yang baru dengan menggunakan metode ceramah, diskusi, film, atau menyajikantugas-tugas belajar kepada siswa . Ausable menekankan tentang pentingnaya mempertahankan perhatian siswa, dan juaga pentingya pengorganisasian meteri pelajaran yang dikaitakan dengan struktur yang terdapat didalam advance organizer. Dia menyarankan suatu proses yang disebut dengan diferensiasi progresif, dimna pembelajaran berlangsung setahap demi setahap demi setahap, dimulai dari konsep umum menuju kepada informasi spesifik, contoh-contoh ilustratif, dan membandingkan antara konsep lama dengan konsep baru.

8

3.      Memperkuat organisasi kognitif.

Ausable menyarankan bahwa guru mencoba mengikatkan informasi baru ke dalam stuktur yang telah direncanakan di dalam permulaan pelajaran, degan cara mengingatkan siswa bahwa rincian yang ebrsifat spesifik itu berkaitan dengan gambaran informasi yang bersifat umum. Pada akhir pembelajaran ini siswa diminta mengjukan pertanyaan pada diri sendiri mengenai tingkat pemahamannya terhadap pelajaran yang baru dipelajari, menghubungkannya dengan pengetahuan yang telah dimiliki dan pengorgnaisasian matyeri pembelajaran sebagaiman yang dideskripsikan didalam advance organizer samping itu juga memberikan pertanyanan kepada siswa dalam rangka menjajagi keluasan pemahaman siswa tentang isi pelajaran.

 

2.3  Peta konsep

1.    Apakah peta konsep itu ???

Peta konsep adalah untuk menyatakan hubungan bermakna antara konsep – konsep dalam bentuk proporsi – proporsi. Proporsi – proporsi adalah dua atau lebih konsep yang dihubungkan oleh kata dalam satu unit sematik.  Dalam bentuknya yang paling sederhana, suatu peta konsep hanya terdiri atas dua kosep yang dihubungkan oleh satu kata penghubung untuk membentuk proposisi. Misalnya, “padi itu hijau” akan merupakan suatu peta konsep yang sederhana sekali, terdiri atas dua konsep, yaitu padi dan hijau, dihubungkan oleh kata itu.

2.    Ciri-Ciri Peta Konsep

a.       Peta konsep ialah suatu cara utuk memperlihatkan konsep – konsep dan proporsi – proporsi suatu bidang studi.

b.      Suatu peta konsep merupakan suatu gambar 2 dimensi dari suatu bidang studi atau suatu dari bagian bidang studi.

c.       Cara menyatakan hubungan antara konsep – konsep.

d.      Tentang hirearki .

3.    Menyusun Peta Konsep

Ada beberapa langkah yang harus diikuti, yaitu :

a.     Pilihlah suatu bacaan dari buku pelajaran.

b.    Tentukan konsep – konsep yang relevan.

9

c.    Urutkan konsep – konsep itu dari yang paling inklusif ke yang paling tidak   inklusif atau contoh – contoh.

d.   Susunlah konsep – konsep itu di atas kertas, mulai dengan konsep yang paling inklusif ke konsep yang tidak inklusif.

e.     Hubungkanlah kosep itu dengan kata – kata penghubung.

f.     Adapun CONTOHnya adalah sebagai berikut.

4.    Kegunaan Peta Konsep

Dalam pendidikan, peta konsep dapat diterapkan untuk berbagai tujuan :

a.       Menyelidiki apa yang telah di ketahui siswa.

Telah dikemukakan sebelumnya,bahwa belajar bermakana membutuhkan usaha yang sungguh-sungguh dari pihak siswa untuk menghubungkan pengetahuan baru dengan kosep-konsep relevan yang telah mereka miliki. Untuk memperlancar prosese ini,baik guru maupun siswa perlu mengetahui”tempat awal konseptual”.dengan lain perkataan guru harus mengetahui konsep-konsep apa yang telah dimiliki siswa waktu pelajaran baru akan dimulai,sedangkan para siswa diharapkan dapat menunjukan dimana mereka berada, atau konseo-konsep apa yang telah mereka miliki dalam menghadapi pelajaran baru itu.Dengan mengunakan peta konsep guru dapat melaksanakan apa yang telah dikemukakan diatas, dan dengan demikian para siswa diharapkan akan menglami belajar bermakna.

b.      Mempelajari cara belajar.

Bila seseorang siswa dihadapkan pada suatu bab dari buku pelajaran,ia tidak akan begitu saja memahami apa yang dibacanya. Dengan diminta untuk menyusun peta konsep dari isi bab itu,ia akan berusaha untuk mengeluarkan konsep-konsep dari apa yang dibacanya, menempatkan konsep yang paling inklusif pada puncak peta konsep yang dibuatnya,kemudian mengurutkan konsep-konsep yang lain yang kurang inkluisif pada konsep yang paling inkluisif,demikian seterusnya.lalu mencari kata atau kata-kata penghubung untuk mengaitkan konsep-konsep itu menjadi proporsisi-proporsisi yang bermakna.

10

Lebih dari itu ia akan berusaha mengigat konsep-konsep lain dari pelajaran yang lampau,atau menerapkan konsep-konsep yang sedang dihadapinya kedalam kehidupan sehari-hari.dengan cara demikian ia telah berusaha benar untukmemahami isi pelajaran itu. Belajar bermakan telah berlangsung pada siswa itu.

c.       Mengungkapkan konsepsi salah.

Salain kegunaan-kegunaan yang telah disebutkan diatas,peta konsep dapat pula mengungkapkan konsepsi salah (misconception) yang terjadi pada siswa. Konsep salah biasanya timbul karena terdapat kaitan antara konsep-konsep yang mengakibatkan proporsi yang salah.

d.      Alat evaluasi.

Pengunaan peta konsep sebagi alat evaluasi didasrkan pada tiga gagasan dalam teori kognetif Ausubel.

Ø  Struktur kognetif itu diatur secara hierarkis,dengan konsep-konsep dan proposisi-proposisi yang lebih inkluisif, lebih umum superordinat terhadap konsep-konsep dan proposisi-proposisi yang kuarng inkluisif dan lebih khusus.

Ø  Konsep-konsep dalam struktur kognetif mengalami deferensiasi progresif. Prinsip Ausubel ini menyatakan bahwa belajar bermakan merupakan proses yang kontinu, diman konsep-konsep yang baru memperoleh lebih banyak arti dengan dibentuknya lebih banyak kaitan-kaitan proposional.jadi konsep-konsep tidak pernah “tuntas dipelajari”,tetapi selalu dipelajari,dimodifikasi,dan dibuat lebih inkluisif.

Ø  Penyesuaian integratif. Frinsip belajar ini menyatakan bahwa belajar bermakna akan meningkat, bila siswa menyadari hubungan-hubungan baru (kaitan-kaitan konsep)antara kumpulan (sets)konsep-konsep atau proposisi-proposisi yang berhubungan. Dalam peta konsep penyesuaian integratif ini diperlihatkan dengan adanya kaitan-kaitan silang (cross links)antar kumpulan konsep-konsep.

11

BAB III

PENUTUP

 

3.1  Kesimpulan

Teori belajar bermakna dikemukakan oleh David Ausubel dimana pembelajaran bermakna merupakan suatu proses mengaitkan informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam  struktur kognitif seseorang. Sedangkan Struktur kognitif ialah fakta-fakta, konsep-konsep, dan generalisasi-generalisasi yang telah dikuasai siswai dan diingat siswa. Suparno (1997) mengatakan pembelajaran bermakna adalah suatu proses pembelajaran di mana informasi baru dihubungkan dengan struktur pengertian yang sudah dimiliki seseorang yang sedang melalui pembelajaran.

Pembelajaran bermakna terjadi apabila siswa boleh menghubungkan fenomena baru ke dalam struktur pengetahuan mereka. Artinya, bahan subjek itu mesti sesuai dengan keterampilansiswa dan mesti relevan dengan struktur kognitif yang dimiliki siswa. Oleh itu, subjek mesti dikaitkan dengan konsep-konsep yang sudah dimiliki para siswa, sehingga konsep-konsep baru tersebut benar-benar terserap olehnya. Dengan demikian, faktor intelektual-emosional siswa terlibat dalam kegiatan pembelajaran.

Teori belajar bermakna dikemukakan oleh David Ausubel

3.2 Saran

Demikianlah makalah berjudul “David Ausubel : Belajar Bermakna” ini kami buat berdasarkan sumber-sumber yang ada. Kami juga menyadari, masih ada banyak kekurangan di dalam penulisan makalah ini. Sehingga perlulah bagi kami, dari para pembaca untuk memberikan saran yang membantu supaya makalah ini mendekati lebih baik. Atas perhatian Anda semuanya, kami ucapkan terima kasih.

12

DAFTAR PUSTAKA

–          Wilis, D, Ratna.1989. TEORI -TEORI BELAJAR. Bandung : Erlangga.

–          Ausubel,D.P1960.”The use of advanced organizersmin the learning and retention of meningful verbal material”Journal Of educational psychology,51.267-272.

–          http://www.bruderfic.or.id/h-129/Teori-teori belajar.html

–          http://wangmuba.com/2009/02/18/ proses-belajar/

–          http://sutisna.com/pendidikan/strategi-belajar-mengajar/teori-teori-motivasi-dan

strategi-meningkatkan-motivasi-dalam-belajar/

–          http://nurulfikri.sch.id/index.php?option=com_content&view=article&id=22:teori davit ausubel.

13

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 11, 2011 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: